24 Oct 2014

Contoh Tesis S2 tentang Poligami BAB 1



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Poligami merupakan salah satu tema penting yang mendapat perhatian dari Allah SWT, sehingga tidak mengherankan jika Allah meletakkannya di awal surat an-Nisa ayat 1 yang menjelaskan bahwa Allah menciptakan manusia, yaitu Adam, yang satu, kemudian istrinya dan dari keduanya berkembang yang terdiri dari laki-laki dan perempuan yang banyak. Kemudian di ayat ketiga dari surat an-Nisa itu satu-satunya ayat yang membicarakan masalah poligami yang perlu mendapat perhatian dari kaum muslimin semuanya.
Beda halnya dengan para mufassir dan ahli fiqh, diantara mereka ada yang mengabaikan redaksi umum tentang ayat ketiga dari surat an-Nisa. Ayat tersebut mempunyai hubungan erat dengan masalah poligami dengan para janda yang memiliki anak-anak yatim. Pada kenyataannya, ada yang berpoligami tetapi hanya mencari yang masih perawan atau gadis, dan tidak mempunyai kesiapan mengawini janda yang memiliki anak yatim. Hal ini menjadi alasan kuat untuk tidak berpoligami, khususnya kaum laki-laki yang taraf ekonominya dibawah standar.
Pembahasan masalah poligami tersebut tidak lepas dari masalah mendidik anak yatim. Oleh sebab itu, kajian tentang poligami perlu mendapatkan perhatian secara cermat, sekaligus melihat hubungan sebab akibat diantara keduanya. Memang pada satu sisi, poligami yang terjadi dan yang sesuai dengan kehendak ayat di atas akan dapat meringankan berbagai kesulitan sosial yang dialami oleh perempuan, disamping adanya seorang laki-laki disisi mantan janda. Namun pada sisi lain akan memunculkan masalah baru bagi tanggung jawab pendidikan dan kesejahteraan sosial. Oleh karena itu al-Qur’an telah mengisyaratkan untuk mengawini satu saja dari anak yatim atau janda yang mempunyai anak yatim. Kemudian al-Qur’an beralih memerintahkan untuk mengawini wanita-wanita lain, satu atau dua atau tiga atau empat. Namun pada ujung ayat ketiga dari surat an-Nisa tersebut, dijelaskan bahwa jika tidak dapat berbuat adil maka kawinilah satu saja.
Berdasar ayat diatas, poligami itu harus atas dasar perlakuan yang adil di antara istri-istri yang ada. Jika tidak dapat berlaku adil, maka cukup ambil satu saja, dari itu keberadaan poligami memang ada, namun bahasa al-Qur’an nampaknya mempersulit adanya orang-orang yang akan mengawini perempuan lebih dari satu orang. Pada sisi lain, tidak melarang jika memang terjadi, akan tetapi tetap bersyarat. Poligami dengan cara menikahi janda yang ada anak yatimnya tetap mengutamakan terwujud keadilan. Khusus pada anak-anak yatim yang dibawa oleh janda, perintah ditujukan kepada laki-laki yang telah beristri, bukan yang masih bujang. Dan jika laki-laki yang masih bujang, maka hal ini bukan dikatakan poligami, karena ayat tersebut menjelaskan mengawini wanita, dua, atau tiga, atau empat. Jadi berpoligami itu memang dianjurkan bagi laki-laki yang telah beristri dengan syarat, sebagaimana pendapat yang dikemukakan oleh Muhammad Syahrur, berbunyi : Pertama, istri kedua, ketiga, dan keempat adalah janda yang memiliki anak yatim. Kedua, ada rasa kekhawatiran takut tidak dapat berlaku adil kepada anak-anak yatim, jika mempunyai rasa takut, maka poligami akan menjadi gugur ketika tidak terdapat syarat tersebut.[1]
Pendapat Syahrur tersebut dapat dibenarkan, sebab janda yang ada anak yatimnya itu kehilangan penopang keluarganya. Ia perlu dibantu dengan mengawini untuk menjadi istri kedua, dan seterusnya agar tidak canggung dan terhindar dari fitnah pada saat membantu membiayai anak-anak yatim.
Di zaman sekarang, jika pendapat Muhammad Syahrur diterapkan, maka akan muncul berbagai masalah, diantara apa masih ada keinginan bagi laki-laki yang telah beristri menikahi janda yang memiliki anak yatim? Sementara itu ia mempunyai tanggunggan bagi istri pertamanya dan anak-anaknya. Ada juga yang mengemukakan argumen bahwa biaya bagi istri pertama baik dengan adanya anak maupun tidak sudah merasa sulit, dan jika hal ini dilanjutkan, maka laki-laki tersebut akan mendapatkan berbagai macam kesulitan. Dari itu jalan satu-satunya tidak mengawini, akan tetapi memberikan bantuan sekedarnya, yakni sekedar kemampuannya, yang tidak mengikat sebagaimana terikat perkawinan.
Tentang perlakuan adil pada ayat-ayat poligami dalam Al-Quran bukan perlakuan adil terhadap para istri, karena konteks ayat tersebut berbicara masalah poligami dalam kaitannya dengan masalah social kemasyarakatan, berkisar pada masalah anak yatim. Jadi perintah poligami dalam ayat di atas itu sebenarnya untuk yang sudah bersuami dan itupun diutamakan kepada janda yang banyak anaknya. Dan perintah untuk berbuat baik kepada anak-anak yatim, jika mereka ada harta, maka harta mereka itu tidak boleh dicampur dengan harta orang lain, disamping itu syarat lainnya adalah berbuat adil.
Di kalangan masyarakat lebih cenderung memandang negatif terhadap pelaku poligami. Sebahagian masyarakat menghukumi dengan tidak akan berlaku adil, baik materi atau imaterial (cinta). Sebagiannya ada yang berpendapat bahwa poligami adalah sunnah Rasul dan ada yang mengatakan poligami adalah kehususan pada Nabi.[2] Adapun yang berpandangan bahwa keadilan itu dalam dua hal baik materi maupun imaterial, terutama dalam hubb (cinta) dan Jima (hubungan intim suami isteri) seperti Abdullah ibn Abbas, Kemudian Quraish Shihab menegaskan bahwa keadilan yang dimaksudkan adalah keadilan di bidang imaterial (cinta). itulah sebabnya, orang yang berpoligami dilarang memperturtkan suasana hatinya dan berkelebihan dalam kecendrungan kepada yang dicnitainya.[3]
Dari pemahaman seperti inilah sehingga suami yang berpoligami tidak mungkin dapat berlaku adil terhadap isteri- istrinya, terutama dalam bidang imaterial, meski dia telah berusaha seoptimal mungkin. Hanya Nabi yang mampu berbuat adil terhadap isteri-isterinya, sedangkan para pengikutnya tidak.[4] Allah telah memberikan perhatian bahwa poligami itu sungguh berat. Seorang Muslim yang melakukan poligami, sementara dia tidak yakin bahwa dirinya mampu menerapkan keadilan terhadap isteri-isterinya, sesungguhnya dia telah melakukan dosa besar dihadapan Allah. Demikian pula beberapa anggapan masyarakat eks Kewadanan Kawali tentang poligami. Meskipun perkawinan poligami yang dilakukan suami sesuai dengan syarat dan ketentuan, akan tetapi ada anggapan bahwa yang paling dirugikan yaitu perempuan. Masyarakat memandang poligami merendahkan martabat perempuan. Apabila seorang laki-laki yang sudah menikah, maka Ia menikah lagi terlebih dikarenakan kekurangan istri, maka disini kedudukan istri dipandang sangat terhina. Belum lagi dampak dari poligami, yaitu anak yang mesti dipelihara dengan baik.[5]
Realitanya di eks Kewadanan Kawali, poligami tetap terjadi dan ternyata tidak sedikit yang dinilai sukses oleh masyarakat sekitarnya.[6] Kondisi demikian sangat menarik untuk diteliti, sebab pada satu sisi, secara umum muncul anggapan negatif mengenai poligami, tetapi poligami tetap berlangsung dan ada di masyarakat yang menilai positif karena keluarga poligami ternyata sukses dalam usaha dan pendidikan.
Sejalan dengan latar belakang tersebut direncanakan penelitian dengan judul: “Dampak Poligami Terhadap Pendidikan Anak” (Penelitian di eks Kewadanan Kawali Kabupaten Ciamis).

B.     Perumusan Masalah
Dari deskripsi pada latar belakang masalah, diketahui ada permasalahan poligami di kalangan masyarakat pada satu sisi, dan pada sisi lain ada masalah dalam kewajiban mendidik anak. Permasalahan tersebut dapat terjadi jika poligami dilakukan oleh orang yang tidak memenuhi persyaratan. Rumusan masalahnya:
1.    Bagaimana praktek poligami yang terjadi di wilayah eks Kewadanan Kawali?
2.    Bagaimana pendidikan anak pada keluarga berpoligami di wilayah eks Kewadanan Kawali?
3.    Bagaimana dampak poligami terhadap pendidikan anak di wilayah eks Kewadanan Kawali?

C.    Tujuan Penelitian
Sejalan dengan rumusan masalah, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui:
1.    Praktek poligami yang terjadi di wilayah eks Kewadanan Kawali.
2.    Pendidikan anak pada keluarga berpoligami di wilayah eks Kewadanan Kawali.
3.    Dampak poligami terhadap pendidikan anak di wilayah eks Kewadanan Kawali.

D.    Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian ini memiliki kegunaan teoretis maupun praktis. Kegunaan teoretisnya adalah untuk menambah kajian dan wawasan pengetahuan tentang poligami dan pendidikan anak pada keluarga poligami. Adapun kegunaan praktisnya antara lain sebagai berikut:
1.      Bagi peneliti yang saat ini bertugas sebagai Kepala KUA Kecamatan Sadananya, hasil penelitian ini sangat bermanfaat untuk memberikan pengarahan dan pembinaan kepada masyarakat yang akan melakukan poligami.
2.      Bagi lembaga tempat bekerja (KUA), hasil penelitian ini menjadi salah satu rujukan dalam memberikan pertimbangan ilmiah mengenai poligami dan pendidikan anak.
3.      Bagi IAID Ciamis, hasil penelitian ini bermanfaat sebagai literasi ilmiah yang memuat dampak poligami terhadap pendidikan anak.
4.      Bagi masyarakat luas, hasil penelitian ini menjadi salah satu bukti otentik mengenai dampak poligami terhadap pendidikan anak.
5.      Bagi pemerintah, dalam hal ini khususnya Kementrtiaan Agama, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai salah satu masukan guna memberikan putusan mengenai poligami dan pendidikan anak.




[1] Muhammad Syahrur, Nahw Ushul Jadidah Li al-Fiqih al-Islami. Pen: Sahiron Syamsuddin, dan Burhanuddin (Metodologi Fiqih Islam Kontemporer) (Yogyakarta : 2004), h. 428.
[2] DR. Hj. Musda Mulia, MA, APU, Pandangan Islam Tentang Poligami (Cet.I; Jakarta: Lembaga Kajian Agama dan Jender, 1999), h. 46 Bandingkan denganDrs. Khaeruddin Nasution, MA., Riba dan Poligami : Sebuah Studi atas Pemikiran Muhammad Abduh (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996), h. 85-92
[3] Lihat Prof DR. H. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an (Bandung : Mizan, 1996), h. 201
[4] Lihat Musda Mulia, loc. cit.
[5] Dr. Marzuki, M.Ag. dosen Pendidikan Agama Islam dan Hukum Islam pada jurusan PKn dan Hukum Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta. (2009), h. 3
[6] Hasil penelitian pendahuluan kepada beberapa warga yang tetangganya berpoligami (09 Feb 2014)

No comments:

Post a Comment