2 Apr 2011

Tafsir Surah Maryam 88-95: Kepalsuan Ajaran Bahwa Tuhan Mempunyai Anak

Dan mereka berkata: "Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak." Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar,hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka menda'wakan Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak. Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba. Sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti. Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri. (Q.S. Maryam : 88-95)


Berikut tafsir ayat ini dalam Tafsir Ibnu Katsir :
Setelah Allah Ta`ala menegaskan kehambaan Isa a.s. di dalam surah ini dan menceritakan bahwa dia menciptakan melalui Maryam tanpa ayah, maka mulailah Dia mengingkari orang yang mengatakan bahwa Dia punya anak. Mahatinggi dan Mahasuci serta Mahabersih Allah dari yang demikian. Maka Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung berfirman, "Dan mereka berkata, Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai anak. "Sesungguhnya kamu telah mendatangkan," melalui ucapanmu itu, "suatu perkara yang sangat mungkar" dan sangat besar.
Firman Allah Ta`ala, "Hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, bumi terbelah dan gunung-gunung runtuh, karena mereka mendakwakan Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak." Yakni kejadian itu nyaris terjadi tatkala makhluk-makhluk tersebut mendengar ucapan yang dilontarkan oleh manusia yang amat jahat demi mengagungkan dan memuliakan Tuhan, karena langit, bumi dan gunung-gunung itu diciptakan dan didasarkan atas ketauhidan kepada-Nya, bahwa tidak ada Tuhan melainkan Dia, dan bahwa Dia tidak memiliki sekutu dan tandingan, tidak memiliki anak, tidak memilki teman perempuan (istri). Dan tidak ada yang setara dengan Dia. Dia adalah Zat Yang Esa, tempat segala perkara bergantung, Zat yang tidak mempunyai anak dan tidak diperanakkan dan tidak ada satu perkarapun yang setara dengan Dia.
Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata, "sesungguhnya kemusyrikan itu mengagetkan langit, bumi, gunung-gunung dan seluruh makhluk kecuali jin dan manusia. Makhluk-makhluk itu nyaris sirna tatkala mendengar ucapan demikian karena demikian agung Zat Allah. Sebagaimana kebaikan orang musyrik itu tidak berguna, maka kami berharap kiranya Allah mengampuni dosa-dosa orang yang bertauhid. Rasulullah saw. Bersabda:
"Ajarkanlah kesaksian bahwa tiada tuhan melainkan Allah kepada orang yang sekarat. Barangsiapa yang mengucapkannya sebelum mati, maka wajib baginya memperoleh surga". Para sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, bagaimana dengan orang yang mengucapkannya ketika sehat afiat?" Beliau bersabda, "Maka pemerolehan surga itu lebih pasti dan lebih pasti lagi." Kemudian beliau melanjutkan, "Demi yang jiwaku dalam genggaman-Nya, jika tujuh lapis langit dan bumi, segala perkara yang ada diatas keduanya, yang ada diantara keduanya, dan yang ada di dalam keduanya diletakkan diatas penampang timbangan, sedang kesaksian bahwa tidak tiada tuhan melainkan Allah diletakkan diatas penampang yang lain, niscaya kesaksian itu lebih berat."
Hadits ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir dan dikuatkan oleh hadits lain. Wallahu a`lam.
Adh-Dhahhak berkata, "Hampir-hampir langit pecah karenanya," yakni terbelah dua karena mengagungkan Allah Azza wa Jalla. Abdur Rahman bin Zaid bin Aslam berkata, "Dan bumi terbelah karena marah demi Allah Azza wa Jalla." Ibnu Abbas menafsirkan, "Dan gunung-gunung runtuh, yakni hancur." Said bin Jubeir mengartikan hadda sebagai hancur berkeping-keping secara simultan. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Musa r.a bahwa Rasulullah saw. Bersabda,
"Tidak ada seorangpun yang lebih tahan terhadap perkataan yang didengarnya daripada Allah. Dia disekutukan dan dituduhkan beranak. Sedangkan Allah yang menyehatkan mereka, menghindarkan bencana dari mereka dan memberi mereka rezeki." (H.R. Ahmad)

Firman Allah Ta`ala, "Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai anak," yakni anak itu tidak pantas dan layak bagi kebesaran dan keagungan-Nya, karena tidak makhluk yang setara dengan Dia, semua makhluk merupakan hamba-Nya. Karena itu Dia berfirman, "Tidak ada seorangpun dilangit dan dibumi kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sebagai hamba. Sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti". Maksudnya, Dia mengetahui jumlah mereka semenjak mereka diciptakan hingga hari kiamat. "Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri," yakni tidak ada yang menolong dan membantunya kecuali Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Kemudian Dia menetapkan keputusan kepada makhluk-Nya sesuai dengan kehendak-Nya. Dia Maha Adil, Zat yang tidak menzalimi seorang pun meski seberat zarrah.

No comments:

Post a Comment