5 Apr 2011

Rasulullah saw sang teladan .. ujian, cobaan dan rintangan

Risalah dari DR. Muhammad Badi, Mursyid Am Ikhwanul Muslimin, 19-10-2010
Penerjemah:
Abu ANaS
_______
Dengan menyebut nama Allah SWT, dan segala puji hanya milik Allah, salawat dan salam atas Rasulullah saw dan orang-orang yang mendukungnya..
Dalam memperingati hari kelahiran Rasulullah saw, sebagai bagian dari rahmat Allah bagi semesta alam dan teladan bagi seluruh manusia; yang akan kita bahas -dengan pertolongan Allah dan taufiq-Nya- pada dua risalah yang saling melengkapi; pertama; Bagaimana Rasulullah saw menghadapi berbagai cobaan dan rintangan, dan yang kedua: Nabi teladan dan pembawa kabar gembira.
Pertama: ujian, cobaan dan rintangan
Ketika kita merenungkan ayat-ayat Allah dalam Al-Qur’an yang berbicara tentang ujian, cobaan dan rintangan yang dihadapi oleh para nabi dan rasul, maka kita akan menemukan bahwa hal tersebut merupakan sunnah yang tidak pernah menyimpang dan lepas; bahwa mereka sebagai makhluk yang mulia dan kelompok yang dimuliakan oleh Allah adalah sebagai kelompok yang akan terus mendapatkan ujian yang begitu keras “kepada para nabi, kemudian yang serupa dengannya”.

Bahwa ujian, cobaan dan rintangan banyak ragamnya dan sangat bervariasi atas setiap nabi dan Rasul Allah, terutama -yang merupakan puncak dari semuanya- adalah atas Nabi tercinta Muhammad saw; betapa banyak dan beragam ujian dan cobaan yang beliau hadapi yang tidak dirasakan oleh orang lain; agar menjadi contoh yang dominan dan teladan yang baik bagi semua orang yang sedang menghadapi berbagai ujian dan cobaan, bagi semua yang tertindas dan semua orang yang didustakan dan disiksa ..
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”. (Al-Ahzab:21)
Beliau –nabi saw- mengalami masa ujian yang banyak ragamnya; yatim piatu sejak kecil, terasing sejak masa kanak-kanak; kondisi miskin sampai ia harus menjadi penggembala kambing; kemudian penderitaan bertambah sejak kakeknya, pamannya, Isrinya, anak laki-lakinya meninggal, begitu pula dengan anak-anak wanitanya; ujian dalam mengemban amanah risalah; ujian menghadapi beratnya hambatan, pengingkaran, pelecehan dan dilempari dengan batu, dilempari kotoran; ujian dan siksaan terhadap para pengikutnya dengan berbagai macam bentuknya; blockade, embargo dan penjara sehingga “tidak ada makanan yang dapat mereka makan kecuali daun kering yang dapat melukai tenggorokan”, semua itu tidak pernah terjadi dalam penjara apapun pada  saat ini.
Para sahabat banyak yang memohon kepadanya untuk bermunajat dan berdoa, dengan harapan doa beliau akan dikabulkan dan mampu mengangkat penderitaan yang mereka alami, hal itu mungkin saja terjadi sekiranya nabi saw tidak menyadari bahwa kondisi seperti adalah sunnatullah bagi para pengemban dakwah; sebagaimana yang difirmankan Allah:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”. (Al-Baqarah:155)
Siapakah mereka?!
الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
“(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. (Al-Baqarah:156),
Maksudnya adalah bahwa kita dan apa yang kita miliki adalah milik Allah semata, kita semua dan apa yang ada di tangan kita merupakan pinjaman yang harus dikembalikan dan akan diambil oleh pemilik-nya kapan saja yang Dia Kehendaki. Oleh karena itu pula, nabi saw menjadikan para sahabat sebagai contoh, sebagai contoh paling sulit dari apa yang mereka alami berupa penyiksaan dan penganiayaan, sepereti halnya yang pernah dialami oleh nabi Isa putra Maryam AS; untuk meyakinkan mereka bahwa dakwah membutuhkan pengorbanan dan nilai yang sangat berharga yaitu surga bagi siapa yang ingin menjual jiwanya dengan mengharap ridha Allah, karena itulah harta milik Alllah sangatlah mahal, dan tidak ada yang dapat mereka lakukan sabar dan teguh sampai Allah menampilkan agama ini atau binasa yang lainnya.
Allah telah memberikan peringatkan kepada Nabi saw –begitupula kita setelahnya:
وَأَنِ احْكُم بَيْنَهُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَن يَفْتِنُوكَ
“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka..” (Al-Maidah:49)
وَدُّوا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُونَ
“Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu)”. (Al-Qalam:9)
Karena itu, dari sinilah dan sesuai dengan kaidah-kaidah yang mendasar, ustadz Al-Banna mengajarkan kepada kita bahwa yang menimpa diri kita dalam menempuh jalan dakwah ini tidak lain kecuali merupakan pertanda akan bersihnya jalan ini dan benarnya arah jalan ini..
سَتُسْجَنُوْنَ وَتُشَرَّدُوْنَ وَتُنْقََلُوْنَ وَتُصَادَرُ أَمْوَالُكُمْ، وَسَيَسْتَغْرِبُوْنَ فَهْمَكُمْ لِلإِسْلاَمِ عِنْدَهاَ تَكُوْنُوْنَ قَدْ بَدَأتُمْ تَسْلُكُوْنَ سَبِيَلَ أَصْحَابِ الدَّعَوَاتِ
“Kalian akan dipenjara, diterlantarkan, di deportasi dan dirampas harta kalian, mereka akan terus berusaha membuat kalian asing dengan pemahaman akan Islam kalian yang dengan itulah kalian telah memulai jalan melintasi jalan pemilik dakwah”
Sehingga tidak ada seorangpun yang menduga bahwa ujian dan rintangan ini sebabnya adalah karena kita telah masuk ke ranah politik, bahwa kita ikut berkompetisi di dalam pemilu, bahwa jika berhenti dari hal tersebut dan cukupkan diri kita dan peran kita dalam kerja dakwah dan tarbiyah maka kita dan ikhwan serta jamaah kita akan selamat dari berbagai kezhaliman, penyiksaan, penjara, penangkapan, perampasan harta, terror terhadap anak, istri, orang-tua dan ibu.
Inilah wahm; karena mereka tidaklah memerangi kita karena kita berada di puncak politik atau parlemen, persatuan-persatuan para ahli dan kluk olar raga, tidak hanya itu.. demi Allah sekiranya kita tinggalkan mereka dan urusan mereka maka mereka tidak akan tinggal diam meninggalkan kita dan urusan kita. Bahwa alasan utama dan hakiki adalah karena kebenaran yang kita bawa, tentang Islam yang komprehensif yang selalu kita dengungkan dan serukan kepadanya seperti yang disampaikan oleh Waraqah bin Naufal, sepupu Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwailid kepada Rasulullah saw: “Tidak ada seorangpun memiliki seperti yang engkau bawa kecuali akan mengalami ujian?
Kita dan mereka berada dalam satu kapal yang mencoba merusaknya, dan tugas kita adalah mencegahnya dari melakukan kerusakan sehingga kita selamat dan mereka ikut selamat bersama kita jika mereka mau menerima seruan kita.
Demikianlah siti Khadijah yang memiliki wawasan yang luas, dan dianugrahkan hikmah, beliau berkata bahwa nabi saw “akan memuliakan tamu, menjalin silaturrahim, menanggung beban, selalu membantu sepanjang usianya, dan memberikan kemenangan bagi orang-orang yang tertindas,” dan kita berusaha menghadirkan apa yang telah diperintahkan oleh Islam kepada kita, dan apa yang disuguhkan oleh teladan kita Rasulullah saw tentang perbuatan-perbuatan baik dan kebajikan, dan itu semua tidak menambah leluasa kecuali tekanan, penutupan sekolah-sekolah kita, penyitaan kantor-kantor sosial kita dan klinik-klinik kita yang selalu memberikan dan menawarkan kebaikan, kebajikan dan pengobatan bagi semua umat, Muslim dan Kristen.
Beliau –siti khadijah- juga yang meyakinkan Rasulullah saw dan meyakinkan kita semua setelah itu selama kita melakukan apa yang dilakukan oleh Rasulullah yang mulia;
وَاللهِ لَنْ يُخْزِيْكَ اللهُ أَبَدًا
“Demi Allah, Allah tidak akan mengabaikan dirimu selamanya”;
Karena hal tersebut merupakan sunnah Ilahiah, bahwa siapa yang melakukannya akan dimusuhi oleh orang-orang para pembawa kebatilan dan tentara pengikut setan, namun akhir dari itu selamanya milik orang-orang yang bertaqwa, dan hal tersebut telah muncul dan akan terus berlanjut.
Bahwa perhatian utama yang dilakukan Rasulullah saw adalah mencari benteng dakwah dan melindunginya, bukan untuk mencari selamat dirinya dari berbagai siksaan dan ujian “Siapa yang melindungiku hingga aku dapat menyampaikan dakwah Rabb-ku “… “Sampai Allah memenangkannya atau menghancurkan selainnya” ; karena itulah seruan yang selalu disenandungkan adalah “Jihad jalan kami” dengan berbagai macam bentuknya dan sesuai dengan kemampuan setiap orang yang ada dalam jamaah kami; dan dialah -jihad- puncak kemuliaan Islam, dan yang paling utama adalah menyampaikan kebenaran (saja) dihadapan penguasa yang zhalim, lihatlah bagaimana nilai kebenaran disisi Allah bagaimanapun hasilnya, walaupun harus nyawa taruhannya, dan pada saat itu merupakan puncak kematian di jalan Allah – bagaimanapun kondisi dan dimanapun tempatnya- merupakan cita-cita kami.
Seolah-olah Rasulullah saw dalam sejarahnya yang mulia dan indah berkata kepada kita dengan nyata: Apakah Anda berpikir bahwa segala ujian dan cobaan akan berhenti, bahkan hingga kejayaan dan berdirinya sebuah negara Islam yang dipimpin langsung oleh Rasulullah saw sekalipun? Bukankah ini yang terjadi .. Ya.. bahwa cobaan adalah cobaan dan ujian adalah ujian,
أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ
”Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, Padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar”. ((Al-Imran: 142),
dan hasilnya adalah sama dengan hasilnya; barangsiapa yang menjual dirinya dan hartanya kepada Allah dan tidak mengkritik Allah bagaimana dan kapan dapat mengambil atau mengambil sebagiannya, karena kita semua seluruhnya pasti akan kembali kepada Allah.
Demikianlah Rasulullah saw  yang Allahtelah berikan kejayaan kepadanya dan kepada para sahabatnya walau harus  mengahadapi berbagai ujian dan cobaan hingga menemui Tuhannya; beliau mengalami patah tulang rusuknya dan terluka wajahnya, bahkan tergores luka dipipinya yang mulia, semua ini merupakan pelajaran yang sangat berharga bagi umat. Dan ujian yang terbesar adalah yang ada pada jiwa orang-orang yang menyebabkan tersakitinya Rasulullah saw dari pasukan pemanah yang telah melanggar perintahnya.
Bahkan apa yang paling menyakitkan dari orang-orang yang beriman dengan tulus yang melawan padadi Madinah dengan berbagai permasalahannya terutama pada saat mulai terbukanya dunia atas mereka. Tidak  ada jeda waktu untuk istirahat bagi orang yang beriman dari berbagai macam dan bentuk ujian kecuali Allah SWT telah memberikan kepada mereka keteguhan bagaimanapun bentuknya.
Nabi dan para sahabat tidak berubah dan berganti -saat menghadapi ujian dan rintangan serta cobaan- hingga menemui Tuhannya dan Allah ridha kepadanya, dan waktu istirahatnya adalah pada saat berjumpa dengan Tuhannya.
Beliau telah melewati bersama umat Islam kurang lebih 30 peperangan dan ekspedisi hanya dalam kurun waktu 10 tahun saja. Dan pada sakitnya beliau juga merasakan sakit dan sangat terkesan akan keletihan dan susah payah, menderita efek dari racun diklakukan oleh seorang Yahudi setiap tahun pada waktu yang sama.
Saya sampaikan secara rahasia kepada setiap telinga akh yang tercinta akan firman Allah SWT:
وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ وَلَوْلا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلاً
“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil Amri). kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu)”. (An-Nisa:83)
Tidak ada seorangpun yang menghalangi anda untuk berfikir yang lebih baik, karena berfikir dan bertafakkur adalah kewajiban yang terdapat di dalamnya balasan dan pahala.
Betul wahai akhi, tidak mengapa memberikan usulan kepada Rasulullah saw, karena beliaulah yang mengajarkan dan memotivasi kita, namun sampaikan usulan anda kepada qiyadah sampai dilakukan syura yang penuh berkah dan memberikan solusinya. Bahwa sebagian sahabat selalu mengatakan inilah pendapatku dan aku berharap agar tidak dijadikan sebagai keputusan lalu diamalkan; karena takut menjadi riya dan sombong lalu menghilangkan pahala, namun setelah diambil keputusan
فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
“Maka apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”. (Ali Imran:159)
Kepada kalian wahai para ikhwah yang tercinta, terutama yang berada di balik jeruji besi
Sungguh telah terdapat dalam jiwa Rasulullah saw teladan yang baik, dan itu telah tertanam dalam jiwa kalian, karena itu bersabarlah dan berharaplah kebaikan darinya, dan bayangkanlah akan nikmatnya ganjaran niscaya akan melupakan kalian pahitnya kesabaran, dan dalam waktu dekat -Insya Allah- kalian akan mengatakan telah hilang penjara, leher telah basah dan ditetapkan ganjaran Insya Allah.
Pandanglah pada agama kalian orang yang paling tinggi dari kalian dan pandanglah duniawi kalian pada orang yang paling bawah dari kalian, niscaya Allah akan menuliskan kepada kalian derajat orang-orang yang sabar dan orang-orang yang pandai bersyukur. Semoga Allah membukakan kesedihan kalian dan penderitaan ikhwan kalian, bahkan kepada para akhwat yang tertawan dan berada di penjara-penjara zionis perampas bumi Palestina, dan orang-orang yang berada di belakang kalian, dibelakang mereka dan dibelakang akhwat dalam keluarga, anak dan dakwah telah meninggalkan warisan yang terbaik seperti yang telah ditinggalkan oleh hamba-hamba-Nya yang salih..
نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ . نُزُلاً مِنْ غَفُورٍ رَحِيمٍ
“Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta”. (Fushilat:31-32)
وَاللهُ غَالِبٌ عَلَى أَمْرِهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ
“Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya”. (Yusuf:21)

Naskah Terkait Sebelumnya:

No comments:

Post a Comment