2 Apr 2011

perkembangan Faham Sufi dari waktu ke waktu

Category:   Other

Ingredients:
Sesungguhnya faham sufi (sufisme) itu berkembang dari waktu ke waktu mengikuti keadaan jaman. Sejak jaman Rasulullah saw hinnga sekarang, banyak diwarnai dengan keragaman. Adapun keragaman tersebut muncul dalam beberapa tahapan perkembangan.

Sebagian ulama berpendapat, ayat-ayat Al-Qur`an yang turun di Mekkah -periode Makkiyah- sudah menekankan betapa pentingnya spiritual, dalam kaitannya tentang orientasi kenabian dan tentang wahyu. Dikisahkan pengalaman spiritual kenabian yang dilalui Rasulullah saw (dikenal dengan Isra` Mi`raj), misalnya :

"Demi bintang ketika terbenam. kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat. yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli. sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi. maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hambaNya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka apakah kaum (musyrik Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya?" (QS. An Najm 1-12)

"Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Al Isra` 1)

Sebagian ulama filosof mengatakan, bahwa pengalaman isra` mi`raj Nabi lebih kepada pengalaman spiritual. Para yang mendapat cerita tentang isra` mi`raj langsung menerima dan mereka tidak bertanya mengenai pengalaman-pengalaman tersebut. Ada sejumlah alasan mengapa demikian, karena mereka dilatih untuk suatu tujuan moral atas dasar keagamaan. Lagi pula aktifitas mereka telah membuat mereka cnederung untuk tidak bertanya-tanya tentang rahasia metafisik itu. Kedua, mereka menganggap bahwa pengalaman-pengalaman spiritual Nabi saw tersebut merupakan ciri khas seorang rasul atau utusan Tuhan. Sedangkan kewajiban mereka hanya mengimani dan melaksanakan apa yang diyakininya itu.

Dalam masa ini, Rasulullah saw menanamkan kepada umatnya -walaupun pada tingkatan yang berbeda- suatu keyakinan tentang ketuhanan, keesaanNya, kemahakuasaanNya, serta perasaan mendalam pada pertanggungjawaban dihadapan pengadilan Tuhan menyangkut perilaku selama di dunia.

Ajaran Rasulullah ini mendapat sambutan yang mendalam oleh para sahabat, terutama yang sangat dikenal adalah Abu Dzar Al Ghiffari. Dimana sepeninggal Rasulullah, Abu Dzar merupakan tokoh penting yang dikenal keshalihannya dimata penduduk Madinah. Keshalihan Abu Dzar inilah yang kemudian menjadi pondasi bagi perkembangan zuhud (sufi) dua abad pertama Hijriyah.

Pada perkembangan berikutnya, keshalihan beragama secara spiritual ini muncul dalam bentuk kehidupan zuhud. Kemunculan kehidupan zuhud dipengaruhi oleh kondisi umat islam disaat itu yang tenggelam dalam menikmati kemewahan duniawi. Kemewahan duniawi itu dipengaruhi oleh keberhasilan pemerintahan islam dalam mengembangkan politik dan militer hingga ke seluruh jazirah Arabia.

Menurut sebagian ulama, kehidupan zuhud semata-mata merupakan reaksi terhadap kehidupan sekuler dan sikap penguasa Dinasti Umayyah yang dianggap kurang religius. Artinya, Dinasti Umyyah telah meninggalkan keshalihan dan kesederhanaan hidup sebagaimana yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah saw dan para sahabat empat.

Dua abad sesudah hijriyah, kemudian bermunculan tokoh-tokoh (ulama) zuhud mengembangkan konsep spiritual (batiniah) dalam beribadah disamping konsep syariat. Lalu muncullah istilah sufisme (gerakan sufi) sebagai protes terhadap kehidupan umat islam yang dianggap kurang religius karena tenggelam dalam kemewahan duniawi. Diantara dari para ulama zuhud itu, salah satu yang sangat terkenal adalah Hasan al-Bashri. Pengaruh konsep ajarannya demikian kuat selama berabad-abad.

Setelah itu, tradisi hidup sufi dikenal sebagai cara tertentu. Pada masa itu konsep ulama zuhud yang sangat populer adalah pemahaman tentang tawakkal (berserah diri kepada Tuhan). Kemudian berubah menjadi dokrin-dokrin yang sangat mencolok. Mereka menempuh jalan sufi dengan menyerahkan diri secara totalitas kepada Allah.

Dari sini kemudian muncul ulama-ulama sufi besar seperti Malik bin Dinar, Ibrahim bin Adham, Rabi`ah al Adhawiyah dan masih banyak lagi.

Kencenderungan pengaruh ajaran sufi pada saat itu misalnya dapat dijumpai dalam cerita tentang bagaimana Malik bin Dinar mencari nafkah (rejeki).

Malik bin Dinar memilih hanya memiliki sebidang tanah. Dimana, sebidang tanah itu dia mengusahakan kehidupan tanpa menggantungkan dirinya kepada orang lain. Sementara Wasi` lebih menyukai menjadi orang yang jika makan tidak peduli darimana dia akan memperoleh makanan lagi nanti.

Ciri khas gerakan pada masa itu hanyalah pada zuhud dan rajin beribadah yang bertujuan untuk membersihkan jiwa secara lahir bathin. Belum ada teori-teori khusus yang menonjol.

Baru pada abad ketiga hijriyah, muncul ulama-ulama besar dalam tradisi sufi, diantaranya ialah Al Muhasibi, Dzun Nun Al Misri, Abu Yazid al Bistami, Junaid Al Baghdadi dan Abu Manshur al Halajj.

Ulama-ulama sufi tersebut menggunakan kebiasaan (tradisi) berpikir yang berkembang pada masa itu. Dzun Nun Al Misri memiliki konsep sufi yang dikenal "al ma`rifah" (pengetahuan). Abu Yazid al Bistami merumuskan konsep yang disebutnya "Al Ittihad (penyatuan hamba dengan Tuhan). Adapun Abu Manshur al Hallaj yang dikenal dengan Al Hallaj merumuskan konsep yang disebut "Al Hulul" "(Tuhan mengambil tempat dalam diri seseorang).

Sesungguhnya konsep-konsep tersebut semula tidak dikenal dalam islam. Konsep tersebut hanyalah pengaruh dari beberapa tradisi pemikiran yang ada. Namun dengan konsep tersebut, para sufi meyakini bisa memperoleh pengetahuan tidak dengan alat indrawi atau akal sebagaimana yang ditempuh oleh para filsuf dan teolog, melainkan dengan hati dan perasaan.

Bersambung ke Konflik Antara Tradisi Sufi dan Tradisi Fiqh



Directions:
Irdy

No comments:

Post a Comment