2 Apr 2011

Mengukuhkan Adanya Tasawuf

Category:   Other

Description:


Ingredients:
Keterangan Tentang Kebenaran dan Argumentasinya Syekh Abu Nashr as-Sarraj' - rahimahullah - berkata: “Ada sekelompok orang yang hanya memahami segala sesuatu secara lahiriah telah mengingkari adanya ilmu batin (tasawuf). Mereka berkata, ‘Kami tak tahu ilmu lain selain ilmu syariat yang zhahir yang dibawa oleh al-Qur'an dan Sunnah’. "

Mereka juga berkata, "Pendapat Anda yang menyatakan adanya ilmu batin dan ilmu tasawuf tak memiliki bobot makna apa-apa."

Maka kami perlu menjawabnya - semoga Allah memberi taufik pada kita

Sesungguhnya ilmu syariat adalah suatu disiplin ilmu dan suatu nama yang mengandung dua makna: riwayat (narasi) dan dirayat (pemahaman). Jika Anda telah mengumpulkan dua makna tersebut, maka itu adalah ilmu syariat yang mengajak pada berbagai amal, baik lahiriah maupun batiniah. Dan memang tidak sepantasnya jika kita berbicara tentang ilmu untuk dibeda-bedakan menjadi ilmu batin dan ilmu zhahir. Sebab apabila ilmu itu berada dalam hati nurani, berarti ilmu batin sampai ia muncul dalam ucapan. Dan jika telah muncul dalam bahasa lisan maka itulah ilmu zhahir.

Hanya saja kami tetap perlu mengatakan, bahwa ilmu itu ada yang batin dan ada yang zhahir. Ilmu itu tak lain adalah ilmu syariat yang menunjukkan dan mengajak untuk melakukan aktivitas (amal) lahiriah dan batiniah. Sedangkan apa yang disebut dengan amal zhahir adalah aktivitas anggota tubuh yang menyangkut ibadah dan hukum.

Adapun yang menyangkut ibadah adalah seperti masalah bersuci, shalat, zakat, puasa, haji, jihad dan lain-lain.

Adapun yang menyangkut hukum adalah seperti hudud (hukum pidana), talak, pemerdekaan budak, jual beli, fara'idh (warisan), qishas (hukum pembalasan) dan lain lain. Ini semua berkaitan dengan anggota badan bagian luar.

Adapun yang berhubungan dengan aktivitas batiniah adalah seperti perbuatan hati, yang berupa kedudukan dan kondisi spiritual, seperti tashdiq (pembenaran), iman, yakin, jujur, ikhlas, ma'rifat, tawakal, mahabbah (cinta), ridha, dzikir, syukur, inabah (kembali kejalan Allah: tobat), khasyyah (takut), takwa, muraqabah (menjaga hati nurani), fikrah, i'tibar (mengambil pelajaran), khauf (takut siksa), raja' (berharap rahmat Nya), sabar, qana'ah (puas atas bagian yang diberikan), taslim (tunduk), tafwidh (pasrah), qurb (mendekatkan diri kepada Allah), syauq (rindu), wajd (suka cita dengan Allah), wajal (takut), huzn (sedih), nadm (menyesal), haya' (malu), khajal (malu), ta'zhim (mengagungkan), ijlal (memuliakan) dan haibah (sungkan karena kewibawaan Nya).

Masing masing aktivitas, baik yang bersifat lahir maupun batin ada ilmu, keterangan, fiqih, pemahaman, perasaan hati dan hakikatnya tersendiri.

Sementara itu, masalah kebenaran amal lahiriah maupun batiniah selalu didukung oleh argumentasi ayat ayat al-Qur'an dan Hadis-hadis Rasulullah saw. yang hanya bisa diketahui oleh orang yang mengerti dan tidak akan terungkap oleh mereka yang tidak tahu.

Apabila kami mengatakan tentang ilmu batin, maka yang kami maksudkan adalah ilmu tentang aktivitas batin yang merupakan anggota badan yang batin, yakni hati.

Sebagaimana jika kami katakan ilmu zhahir, maka yang kami maksudkan adalah ilmu tentang aktivitas zhahir yang menyangkut semua anggota yang lahir, yaitu seluruh anggota badan.

Allah swt. berfirman, "... dan Dia menyempurnakan untukmu nikmat Nya lahir dan batin." (Q.s. Luqman: 20). Nikmat lahiriah ialah apa yang Allah karuniakan pada anggota badan yang lahir untuk berbuat taat. Sedangkan nikmat batin adalah berbagai kondisi spiritual yang Allah karuniakan pada hati.

Dan tentu saja yang zhahir tidak bisa lepas dari yang batin, dan begitu sebaliknya, yang batin juga selalu membutuhkan yang zhahir.

Allah swt. berfirman: "Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri)." (Q.s. an-Nisa': 83).

Sedangkan ilmu yang diperoleh dengan cara istinbath adalah ilmu batin, yaitu ilmu yang dimiliki orang-orang Sufi. Sebab mereka memiliki berbagai hasil istinbath dari al-Qur'an, Hadis dan lain lain. - Sebagian dari masalah ini akan kami bahas kemudian, Insya Allah.

Dengan demikian, maka ilmu itu ada ilmu zhahir dan ilmu batin. Al Qur'an adalah zhahir dan batin, Hadis Rasulullah saw. juga zhahir dan batin. Begitu pula Islam, zhahir dan batin.

Sementara itu sahabat sahabat kami dari kaum Sufi dalam memahami makna makna tersebut juga memiliki dalil dalil dan argumentasi dari al-Qur'an, Sunnah dan akal (rasional). Dan untuk menerangkan hal ini akan sangat panjang dan akan keluar dari uraian ringkas yang kami maksudkan. Maka apa yang kami kemukakan bisa dianggap cukup - Dan semoga Allah memberi taufik kepada kita.

Directions:
Pengajian Syeikh Abu Nashr as-Sarraj

No comments:

Post a Comment