2 Apr 2011

Asal Usul Gerakan Sufi

Category:   Other

Ingredients:
Sesunggunya gerakan sufi itu merupakan pola hidup zuhud terhadap dunia. Zuhud artinya menghindari hidup berfoya-foya dan bergaya hidup mewah. Dengan hidup zuhud diharapkan seorang hamba menjadi tekun menjalankan ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Pola hidup zuhud ini dilakukan oleh sejumlah ulama sebagai reaksi terhadap kehidupan mewah dan tidak agamis dari sebagian umat islam di jaman itu, terutama elit birokrat. Hidup mewah umat islam pada saat itu karena dipengaruhi oleh suksesnya imperium politik islam yang berhasil menguasai daerah-daerah subur dan kaya sejak abad pertama hijriyah.

Para ulama menerapkan pola hidup zuhud terhadap dunia dengan maksud melestarikan kehidupan yang benar-benar islami, sebagimana yang dilakukan oleh Rasulullah saw dan umat islam pada awal abad pertama hijriyah.

Ketika islam berjaya dan Rasulullah saw telah wafat, begitu juga satu persatu para sahabat dan khulafaur rasyidin pergi meninggalkan mereka, ada gejala kecenderungan hidup berfoya-foya, yang mana hidup berfoya-foya itu dinilai oleh ulama sebagai penyimpangan dari ajaran islam. Oleh karena itu, sebagian ulama berpendapat bahwa gerakan sufi sesungguhnya adalah gerakan pengembalian islam secara orisinil.

Munculnya gerakan sufisme juga dipicu oleh kehidupan beragama yang terlalu formalitas dan mengabaikan aspek batiniyah. Sepeninggal Rasulullah saw seluruh jazirah Arab telah menyatakan tunduk kepada pemerintahan Madinah. Tidak terlalu lama kemudian, daerah kekuasaan politik (imperium) islam berkembang dengan cepat, meluas sampai meliputi daerah yang terbentang dari sungai Nil di bagian barat dan sungai Oxus di timur.

Ketika itu umat islam di Madinah benar-benar sukses luar biasa. Sukses di bidang politik dan militer ternyata membawa berbagai akibat yang sangat luas. Salah satunya adalah sistem hukum sebagai salah satu alat untuk pengatur masyarakat. Aturan hukum yang kemudian dikenal dengan istilah fiqh. Lama-kelamaan istilah figh kemudian menjadi sentral dalam pemikiran agama. Dengan begitu, seringkali agama diidentikkan sebagai fiqh. Karena yang demikian itu, maka pandangan terhadap keislaman seseorang hanya diukur bersadarkan kepatuhannya terhadap aturan fiqh.

Padahal, istilah fiqh mengandung makna asli pemahaman mendalam. Identik juga dengan syari`ah, yang secara bahasa berarti jalan menuju sumber air. Pada mulanya istilah syari`ah digunakan dalam Al-Qur`an untuk menunjuk pada suatu konsep yang luas mencakup kebenaran spiritual sufi (hakikat), kebenaran akal pada filosof dan teologi, serta kebenaran hukum (fiqh).

Selain hal tersebut, negara yang dibentuk oleh tatanan islam di Madinah sangat memerlukan fiqh (hukum) karena seringkali terancam oleh berbagai tindak pembunuhan dan kekacauan. Negara tidak saja membutuhkan ketertiban dan keamanan, tetapi juga kepastian hukum. Dalam keadaan seperti ini, kesalihan seseorang dalam beragama diukur berdasarkan kepatuhan terhadap hukum (fiqh). Konsep yang berkembang seperti ini perlahan-lahan membawa seseorang memahami agama sebatas aspek lahiriah saja (tinglah laku saja). Kemudian mengabaikan hal-hal yang berkenaan dengan batiniah (spiritual). Keadaan yang demikian inilah oleh golongan zuhud dianggap sebagai pengamalan agama sebatas pada formalitas saja, pengamalan agama yang hanya mengutamakan segi tingkah laku dan lahiriah.

Orang-orang yang cenderung kepada formalitas fiqh yang berpusat pada masalah-masalah fiqiyah menyebut dirinya sebagai faham keagamaan (fiqh) dan jalan yang benar (syari`ah). Sedangkan orang-orang zuhud yang berorientasi pada pengamalaman spiritual juga mengatakan bahwa dirinya sebagai pengetahuan (ma`rifah) dan jalan menuju kebahagiaan (tariqah).

Bersambung ke Perkembangan Faham Sufi Dari Waktu ke Waktu

Directions:
Irdy

No comments:

Post a Comment